Numpang Ngetrend

Teman

Seorang Ayah Menggendong Mayat Anaknya Sejauh 10 Km

Diposting oleh saka hero Jumat, 20 Agustus 2010

 Setelah membaca postingan sahabat bunglonblog saya jadi terharu sekaligus kaget dengan apa yang terjadi pada masyarakat kita. "seorang ayah harus menggendong mayat anaknya sejauh 10 km karena tidak mampu menyewa mobil jenazah". Silahkan baca selengkapnya dan semoga dapat menjadi bahan introspeksi diri kita masing-masing.

Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan jakarta – Bogor pun geger Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn).
Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL. Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.

Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi. Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari. Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu.

Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00. Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yangkotor itu, di sela-sela kardus yang bau.

Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan darisesama pemulung.

Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet. Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet.

Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam. Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan. Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulangdari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi Karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor.

Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan. Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsaIndonesia, ujarnya.

Seharusnya Anda Para pemimpin Bangsa MALU !!!!


Sumber : facebook, dan bunglon blog

6 komentar

  1. tragis memang...
    kenapa setelah ditahan begitu tidak dibantu ya...
    ah... begitu mengecewakan memang... >.<

     
  2. sungguh tragis, di balik gelimangnya harta pejabat, uang rakyat yang banyak di korup, negara besar yang kaya raya, negeri dengan segala kekayaan alam dan SDA yang berlimpah, masih ada rakyat yang mengalami hal seperti ini,.......

    mungkin ini satu contoh dari sekian ribu bahkan ratus contoh yang tidak terlihat yang terjadi di negeri kaya ini....memang Tuhan maha Adil, memberikan tanah air kita dengan kekayaan melimpah ruah, penduduk yang ramah tamah dan....................PEMIMPIN YANG IDIOT..

     
  3. Anonim Says:
  4. polisi apaan tuch??
    polisi emang jagonya nilang doank!
    ga punya hati nurani!

    rscm
    yang katanya "rumah sakit pemerintah"
    pemerintah yang mana??

    kita sama2 berdo'a aja semoga Allah mengazab orang2 seperti mereka!

     
  5. Anonim Says:
  6. sistem di negara kita sudah menjadi kapitalis, semua di hitung dengan uang, sedikit sedikit uang,,,,,negara kita seperti perusahaan yang harus untung terus, ga mau rugi.
    mudah mudahan para pemimpin negara kita sadar.... bahwa setiap orang mati tidak akan bawa hartanya, kecuali amal dan perbuatan semala di dunia.

     
  7. Anonim Says:
  8. sistem indonesia sudah melenceng dari kepedulian,, kita mencari pemimpin yang pedulu, jujur yang bisa membawa rakyat pada kesejahteraan bukan nya malah mikirin perut nya sendiri .. kita harus ganti sistem bagi para pemimpin dzolim yang kini berkuasa ..

     
  9. Anonim Says:
  10. pemerintah cuma bisa JAMBU saja aliass JANJI BUSUK ..
    pas lagi kampanye aja rakyat menengah kebawah dijanji''kan segala macam program ... tapi nyatanya program KORUPSI adanya yang imbasnya pada masyarakat juga ...
    dasar PEMERINTAH DHOLIM......

     

Posting Komentar